Pada Rabu malam, 4 Maret 2026, Kapanewon Temon menggelar kegiatan Safari Tarawih di Kalurahan Kulur. Tahun ini rombongan memilih Mushola Al Huda di Padukuhan Setro sebagai titik kunjungan pertama. Suasana selepas isya terasa hangat: lampu mushola sederhana, tikar yang digelar rapi, serta jemaah dari Setro dan dukuh sekitar yang datang lebih awal untuk menyiapkan tempat.
Hadir langsung Panewu Temon bersama Forkompimkap (Forum Koordinasi Pimpinan Kapanewon). Kehadiran mereka bukan sekadar seremonial; para pimpinan ikut merapikan sajadah, menyapa warga satu per satu, bahkan membantu mengatur kotak amal. Bagi masyarakat Setro, momen ini menegaskan kedekatan aparat dengan kegiatan ibadah warga.
Setelah salat tarawih dan witir berjemaah, acara dilanjutkan dengan tausiah singkat dari Pak Muh Suwardi. Dengan gaya lugas, ia mengaitkan ibadah Ramadan dengan tanggung jawab sosial: menjaga kebersihan lingkungan pasca-buka bersama, memperhatikan tetangga yang kesulitan, serta menyalurkan bantuan tanpa menunggu sorotan. Pesannya mengalir tanpa menggurui, sehingga jemaah mendengarkan sambil mengangguk, beberapa mencatat di ponsel.
Bagian yang paling dinanti menyusul kemudian: pemberian santunan. Panitia menyerahkan paket sembako kepada sejumlah warga dhuafa Setro yang telah didata sebelumnya, lalu menambahkan bantuan modal kerja kecil untuk pelaku UMKM setempat—seorang pembuat tempe, penjual gorengan, dan pengrajin anyaman. Nilai bantuannya tidak besar, tetapi diberikan tunai dan tanpa potongan, disertai pesan agar dipergunakan untuk bahan baku atau tambahan etalase. Beberapa penerima tampak terharu, ada yang langsung berterima kasih, ada pula yang hanya memegang amplop sambil menunduk sebentar.
Safari Tarawih ini menutup rangkaian malam sekitar pukul 21.30. Panewu dan Forkompimkap berpamitan, meninggalkan Mushola Al Huda dengan janji kunjungan lanjutan ke padukuhan lain. Warga Setro pulang membawa roti kurma dari bingkisan, sekaligus kesan bahwa Ramadan bukan hanya soal salat malam, melainkan juga ruang berbagi yang merata. Bagi panitia, format sederhana salat, tausiah, santunan terasa tepat guna; bagi jemaah, kehadiran langsung pimpinan menjadi penguat bahwa agenda keagamaan dan kesejahteraan sosial bisa berjalan beriringan.