Masyarakat Kalurahan Kulur, yang terdiri dari 7 (tujuh) padukuhan, melaksanakan tradisi Krapyakan dan Nyadran di makam-makam leluhur menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini dilakukan, biasanya, pada bulan Sya'ban atau Ruwah, dan merupakan wujud rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal. Bersih-bersih makam antara lain makam Gunung Gupit, makam Gunung Tahunan, Sendang Gayam dan makam-makam yang berada diwilayah Kalurahan Kulur.
Tradisi Krapyakan dan Nyadran diawali dengan membersihkan makam leluhur, dilanjutkan dengan doa bersama, dan ditutup dengan makan bersama atau kembul bujono. Masyarakat mengenakan pakaian adat Jawa atau busana muslim yang rapi, dan prosesi ini dipimpin oleh Pemangku Adat atau tokoh agama setempat.
Nyadran memiliki makna filosofis yang mendalam, yaitu menghormati leluhur, menumbuhkan rasa syukur, dan menjaga kebersamaan antarwarga. Tradisi ini juga menjadi sarana menjaga keharmonisan antarwarga serta mempererat tali persaudaraan melalui kegiatan gotong royong dan kebersamaan.
Dengan melestarikan tradisi Krapyakan dan Nyadran, masyarakat Kalurahan Kulur menunjukkan komitmen mereka dalam menjaga nilai-nilai budaya dan spiritual.